
TUNAS, adalah salah satu produk tabungan dari BANK BPD DIY yang segmen nya adalah anak-anak. Mendidik dan menanamkan kebiasaan menabung sejak dini.
Photo by: Nurrahman Al Maghribi
Edited by: Nurrahman Al Maghribi
Client: Bank BPD DIY
Komposisi adalah susunan objek foto secara keseluruhan pada bidang gambar sehingga objek menjadi pusat perhatian (POI=Point of Interest). Dengan mengatur komposisi foto, kita juga dapat membangun "mood" suatu foto dan keseimbangan keseluruhan objek. Berbicara komposisi, selalu terkait dengan kepekaan dan "rasa" (sense). Untuk itu sangat diperlukan upaya untuk melatih kepekaan kita agar dapat memotret dengan komposisi yang baik. Komposisi dalam fotografi pada dasarnya adalah penyusunan elemen yang ada disekitar obyek foto yang kemudian kita rangkai dalam sebuah bingkai (frame) untuk menghasilkan sebuah gambar yang memiliki kesimbangan antara warna, garis-garis, gelap terang dsb. Dari keinginan itu, sehingga terjadi sebuah pencitraan gambar yang menarik untuk kita lihat. Penguasaan komposisi dalam memotret sangatlah penting. Karena keberhasilan seorang fotografer sebenarnya terletak pada daya kreativitas untuk membuat kompoisi, di samping penguasaan tehnik fotografi.
Dalam memotret tentu kita banyak memiliki pilihan angle (sudut pengambilan) apakah itu dari samping, depan, atas atau bawah atau dari mana saja. Pemilihan angle masing-masing pemotret pasti tidak sama. Bagi seorang pemula seringkali dihadapkan pada berbagai masalah saat dalam menentukan posisi saat memotret dan dalam pemilihan angle. Bingung, tidak yakin dan kurang pecaya diri, kerap menyelimuti saat melakukan pemotretan. Hal ini karena fotografer tidak memiliki target foto yang diinginkan dalam memotret. Itu sebabnya, ketika akan memotret seorang fotogarafer sudah harus memiliki konsep, atau rencana foto yang akan di hasilkan nanti seperti apa. Sehingga untuk memulai dalam memotret, dan mengambil posisi tidak mengalami kesulitan.
Dalam prakteknya, memotret tidak ada suatu keharusan untuk menentukan posisi yang tepat, apakah harus dari depan, dari samping dari atas dst. Semuanya diserahkan kepada fotografer itu sendiri. Karena hal ini tergantung dari keinginan atau kebutuhan gambar yang akan dihasilkan nantinya. Itu sebabnya, sebelum memlakukan pemotretan harus membuat konsep telebih dahulu, paling tidak ada bayangan dalam benak diri kita, tentang foto yang akan diinginkan seperti apa. Dari pemikiran itulah barulah kemudian menentukan posisi yang tepat. Namun untuk menghadirkan komposisi yang dinamis diperlukan juga kehadiran irama. Irama ini terjadi karena adanya pengulangan berkali-kali sebuah objek yang berukuran kecil. Kehadiran irama dalam gambar mengesankan adanya suatu gerakan. Pada posting yang sebelumnya telah dijelaskan mengenai nirmana, bisa diartikan bahwa nirmana adalah unsur-unsur atau hal dasar dalam membentuk komposisi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengertian pembentukan komposisi dalam fotografi antara lain adalah:
Line & Curves
Komposisi ini berdasarkan pada garis dan curve yang membentuk arah penglihatan menuju object utama. Secara tidak sadar mata kita selalu mengikuti arah garis jika melihat sebuah foto yang memang ada garisnya, untuk itu sebagai fotografer kita dituntut untuk bisa memanfaatkan garis ini semaksimal mungkin untuk menggiring mata yang melihat foto yang kita ciptakan ke object utama. Garis bisa berupa apa saja, bisa jalan, sungai, pagar, tali atau bahkan bayangan. Garis adalah hal yang setiap hari bisa kita temui di mana saja, ia bisa menggabungan beberapa elemen menjadi satu kesatuan atau bisa memisahkannya menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Komposisi line & curve bisa berupa komposisi diagonal, vertical, horizontal dan kurva atau garis lengkung yang masing-masing bisa membentuk mood tersendiri. Vertical biasa digunakan untuk kesan kuat yang diterapkan pada cityscape. Horizontal bisa memberikan mood kedamaian, biasanya diterapkan pada landscape, diagonal memberikan mood pergerakan dan kurva memberikan mood elegan seperti yang sering diterapkan pada portrait wanita dengan menggunakan S curve.
Fotografer yang baik kerap menggunakan garis pada karya-karya mereka untuk membawa perhatian pengamat pada subjek utama. Garis juga dapat menimbulkan kesan kedalaman dan memperlihatkan gerak pada gambar. Ketika garis-garis itu sendiri digunakan sebagai subjek, yang terjadi adalah gambar-gambar menjadi menarik perhatian. Tidak penting apakah garis itu lurus, melingkar atau melengkung, membawa mata keluar dari gambar. Yang penting garis-garis itu menjadi dinamis.
Salah satu formula paling sederhana yang dapat membuat sebuah foto menarik perhatian adalah dengan memberi prioritas pada sebuah elemen visual. Shape adalah salah satunya. Kita umumnya menganggap shape sebagai outline yang tercipta karena sebuah shape terbentuk, pada intinya, subjek foto, gambar dianggap memiliki kekuatan visual dan kualitas abstrak. Untuk membuat shape menonjol, anda harus mampu memisahkan shape tersebut dari lingkungan sekitarnya atau dari latar belakang yang terlalu ramai. Untuk membuat kontras kuat antara shape dan sekitarnya yang membentuk shape tersebut. Kontras ini dapat terjadi sebagai akibat dari perbedaan gelap terang atau perbedaan warna.
Sebuah shape tentu saja tidak berdiri sendiri. Ketika masuk kedalam sebuah pemandangan yang berisi dua atau lebih shape yang sama, kita juga dapat meng-crop salah satu shape untuk memperkuat kualitas gambar.
Apa yang seharusnya kita perhatikan sebelum kita memutuskan untuk menekan shutter pada kamera kita untuk membidik objek yang sudah kita komposisikan sebagaimana dengan apa yang kita inginkan didalam viewfinder. Ada yang sering salah kaprah dalam melakukan penentuan mana yang harus ditentukan dahulu antara ISO, Speed, dan Diafragma.
Kombinasi Antara Shutterspeed dan Diafragma :
Semakin besar bukaan (angka kecil) semakin banyak cahaya yang masuk, semakin lama rana membuka (angka speed kecil) juga akan semakin banyak cahaya yang masuk. Maka saat kita memotret menggunakan high speed (kecepatan tinggi) kita telah mengurangi durasi waktu cahaya yang masuk untuk menyeimbangkannya maka kita harus membuka diafragma lebih besar.
Kapan waktu kita menggunakan speed 1/2000 (high speed)?
Kapan waktu kita menggunakan speed 1/10 (slow speed)?
Kapan waktu kita menggunakan bukaan diafragma 2,8?
Kapan waktu kita menggunakan bukaan diafragma 11 atau bahkan 22?
Untuk menjawab persoalan diatas kita harus menentukan dulu prioritas dan kebutuhan akan foto yang akan kita buat dan akan memuat apa foto tersebut.
Speed Cepat
Jika kita ingin memotret benda yang bergerak dengan cepat, misalnya foto orang yang sedang meloncat, dan ingin objek itu benar-benar tampak diam, kita harus mengatur shutterspeed secepat mungkin. Misalnya setting shutterspeed 1/1000 detik, selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur diafragma agar indikator eksposure tetap berada di tengah.
Speed Lambat
Jika ingin menghasilkan efek “Panning” (misalnya foto motor atau mobil yang sedang berjalan dengan background yang seolah-olah bergerak), kita harus membuka kamera lebih lama sekitar 1/30 detik. Lalu ikutilah pergerakan objek yaitu motor atau mobil tadi. Karena kamera mengkuti pergerakan objek, maka objek akan tetap fokus namun background akan seolah-olah bergerak. Efek “Panning” tidak mungkin didapatkan melalui shutterspeed yang terlalu cepat. Karena pada keadaan shutterspeed cepat foto yang akan kita hasilkan ada foto yang bermuatan stop action (freeze).
Bukaan Diafragma Besar
Pasti anda pernah melihat foto dengan suatu objek yang tajam dengan background yang blur. Teknik sangat digemari karena dapat memperkuat objek pada foreground dan juga terasa lebih artistik. Caranya adalah dengan bukaan diafragma yang besar, misalnya F/1.4, F/1.8, F/2, dst. Semakin kecil angka di belakang huruf F,semakin besar bukaan diafragmanya.
Bukaan Kecil
Jika bukaan diafragma besar menghasilkan efek blur pada background, maka bukaan diafragma kecil menghasilkan efek tajam dari foreground sampai background. Bukaan diafragma kecil biasanya digunakan dalam memotret landscape, yang membutuhkan detail dan ketajaman di seluruh bagian foto.
Yang perlu diingat adalah setiap kita memprioritaskan untuk mengatur speed, maka pengaturan diafragma juga harus disesuaikan agar indikator eksposur tetap berada di tengah.
ISO
Jika telah memahami akan kombinasi shutterspeed dan diafragma, maka kombinasi selanjutnya ditambah dengan ISO.
Ada beberapa kondisi, contohnya saat malam hari dan cahaya yang minim, kita sudah mengatur bukaan sebesar mungkin, agar indikator eksposure tepat di tengah hanya mendapat shutterspeed 1/5 detik yang sangat rawan akan blur atau shake. Padahal kita tidak boleh kehilangan momen. Tidak dapat juga menurunkan speed agar tidak blur, karena foto akan menjadi under eksposure alias gelap.
Solusi dari masalah ini adalah menaikan ISO. Jika sebelumnya setting ISO 200, naikan menjadi ISO 400, 800, 1000, dst. Tergantung kebutuhan. ISO yang tinggi berarti menambah kemampuan kamera menangkap cahaya. Speed yang tadi hanya 1/5 bisa menjadi 1/60 detik dengan menaikan ISO. Efek samping dari menaikkan adalah munculnya bintik-bintik pada foto. Hal seperti itu biasa disebut dengan istilah grain atau noise untuk kasarnya bisa juga ketombe.
Sangat mudah untuk menghasilkan eksposure yang tepat, hanya tinggal bermain-main sedikit dengan logika kita.